You need to enable javaScript to run this app.

Memerankan Tugas-Tugas Sejarah

  • Rabu, 28 September 2022
  • Humas-MTs Darul Mubin
  • 0 komentar
Memerankan Tugas-Tugas Sejarah
Abad 8 sampai 12 merupakan zaman kejayaan Islam. Zaman umat Islam mengembangkan suatu kehausan
yang besar akan ilmu pengetahuan, suatu kerinduan akan ilmu yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah. 
 
Peradaban Islam ketika itu mencapai puncaknya, dan kaum muslim menjadi para pemimpin pemikiran filsafat dan
ilmu pengetahuan. Khususnya dalam bidang ilmu-ilmu alam mereka mencapai kemajuan-kemajuan yang
mencolok dan mencatat kemenangan-kemenangan yang terbesar.
 
Dengan mengikuti jejak Aristoteles, para pemikir Muslim yang pertama menggolongkan ilmu-ilmu pengetahuan
menjadi 3 bagian yakni teoretis, praktis dan produktif. Al-Kindi merupakan filsuf muslim pertama yang menyajikan
klasifikasi seperti itu, yang kemudian diganti oleh Al-Farabi dalam bukunya Ihsa al-Ulum (daftar ilmu-ilmu).
Klasifikasi ini pun disisihkan oleh Ibnu Sina, namun klasifikasi Al-Farabi pada pokoknya masih tetap utuh
dan, dengan perubahan-perubahan kecil, diikuti oleh semua pemikir berikutnya, terutama Al-Ghazali dan
Ibn Rushd.
 
Para ilmuwan Muslim memiliki karakteristik tersendiri dalam menentukan ilmu pengetahuan. Mereka tidak
pernah menerima baik suatu hasil pemikiran kecuali jika telah dibuktikan kebenarannya melalui pengamatan
dan percobaan. Mereka memiliki laboratorium sendiri atau bekerja di laboratorium milik negara.
Umpanya Jabir Ibn Hayyan, di situ ia membuat berbagai macam asam mineral dan persenyawaan kimia.
Demikian pula Al-Biruni, Umar Khayyam, Ibn Sina, Ibn Yunus, Tusi, Al-Khazimi dan lain-lainnya.
Hasil pemikiran yang mereka (ilmuwan Muslim) capai didasarkan atas percobaan dan tidak berdasarkan
penalaran saja.
 
Di zaman kejayaannya, Islam melahirkan para ahli matematika yang sumbangannya kepada berbagai
bidang matematika telah memperoleh penghargaan dan kehormatan dari para sarjana di seluruh dunia.
Yang terbesar di antara mereka adalah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (780-850) yang tidak hanya telah
menyusun tabel-tabel astronomi, tapi juga menulis buku-buku mengenai ilmu hitung dan aljabar.
Bukunya mengenai aljabar, Hisab al-jabr waal-muqabalah (kalkulasi integral dan persamaan).
 
Adalah menarik untuk dicatat, bahwa seorang muslim lainnya yang menentang ajaran Aristoteles, Ibn Taimiyyah,
seorang filsuf dan ahli ilmu Kalam yang besar, dalam bukunya Al-Raad ala al-Mantiqiyin (sangkalan terhadap
para ahli logika). Tujuan Ibn Taimiyyah (dalam menulis buku tersebut) yang sebenarnya adalah menunjukkan
bahwa alat (logika) yang digunakan oleh para filsuf untuk mengkritik dan meragukan kebenaran-kebenaran agama
adalah juga cacat.
 
Yang sangat disesalkan adalah bahwa momentum yang telah dicapai oleh kaum Muslim telah hilang secara
tiba-tiba, dan orang-orang yang semula merupakan perintis ilmu, kini menduduki kursi yang hampir paling
belakang dalam balai ilmu pengetahuan. Penyebabnya banyak. Satu diantaranya adalah penjarahan
Kota Baghdad. Pemimpin Mongol, Hulagu menghancurkan perpustakaan-perpustakaannya dan para sarjananya,
serta membunuh Khalifah Ali Mustasim (1258). Direbutnya Granada oleh Ferdinand dan Isabella pada
tahun 1491 memberikan pukulan yang serupa kepada kebudayaan Arab (Islam) di Andalusia.
 
Sejarah Peradaban Islam di dunia menunjukkan dengan terang bahwa karunia Allah SWT kepada manusia
demikian tampak pada kemampuannya berilmu pengetahuan, kebebasannya dalam mencipta dan dalam
membangun sistem dan nilai komunikasi yang menempatkan keragaman budaya, kekhususan geografis dan
ikatan-ikatan tertentu, serta pengalaman kewaktuan yang terus berubah. Semua ini merupakan kesempatan
dan wahana yang memperkaya kualitas kemanusiaan. Atas semua kemampuan, amanah, dan kesadaran
akan hal tersebut, kelak akan dimintai pertanggung jawaban sebagai pembenaran mutlak pada
hari pembalasan oleh Allah SWT di akhirat.
 
Dengan keikhlasan, kesungguhan, kerendahatian, optimisme berikhtiar, kesederajatan dan pembelajaran yang
tak kenal berhenti berproses dalam mewujudkan cita-cita luhur. Hendaklah kita memerankan tugas-tugas
sejarah untuk perbaikan dan pemajuan kehidupan masyarakat bangsa Indonesia, dengan terus berusaha
memuliakan dan aktif dalam berilmu pengetahuan, sebagaimana yang telah diwarisi oleh para ilmuwan Muslim
di atas. Menjadi Aktivator Peradaban. Menjadi Pejuang-Pemikir,Pemikir-Pejuang, serta senantiasa
Mencipta Gagasan, Mendorong Gerakan untuk masa depan yang lebih cemerlang. Menuju Negeri yang Baldatun
Thoyyibatun wa Robbun Gofur.
 
Penulis: Husein Hasni
 
 

 

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Haris K. Abdul

- Kepala Sekolah -

MTs Darul Mubin Kota Gorontalo merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia dengan motto Madrasah Hebat Bermartabat....

Berlangganan
Banner