You need to enable javaScript to run this app.

Think Globally, Act Locally: Spirit Implementasi Pendidikan Pancasila Era Kontemporer

  • Minggu, 25 September 2022
  • Humas-MTs Darul Mubin
  • 1 komentar
Think Globally, Act Locally: Spirit Implementasi Pendidikan Pancasila Era Kontemporer

 

 
Pada Tahun 2020 kemarin, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi meluncurkan kurikulum baru yang diberi nama Merdeka Belajar. Kurikulum ini secara spesifik menitikberatkan pada eksplorasi kompetensi individu peserta didik pada aspek pengembangan kepribadian dan kognitif siswa baik secara literasi, numerasi maupun kerakter. Implementasi kurikulum ini dapat dikatakan sangat menarik, karena peserta didik diharapkan mampu mengembangkan dan/atau merelevansikan antara pengetahuan konseptual yang mereka dapatkan di sekolah (sesuai mata pelajaran) dan perilaku atau sikap pelajar dalam mereplikasi nilai-nilai nasionalitas, regionalitas dan lokalitas dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dengan kedudukannya sebagai satu bangsa (pemahaman konstekstual).
 
Sebagaimana biasa, kampanye atas standar pendidikan di Indonesia ini menjadi satu hal yang menarik pada setiap perubahan arah kebijakan kurikulum pembelajaran. Tentu ini adalah hal yang harus dilakukan sebagai transmisi revisi regulasi arah pendidikan Indonesia pada setiap pelaku pendidikan yang ada di Indonesia. Dalam hal merdeka belajar, ada poin menarik yang penulis dapati dari sisi pengembangan kurikulum tersebut. Poin itu adalah Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
 
Pancasila di era sekarang menjadi narasi yang sering digembar-gemborkan pemerintah dalam setiap implementasi pengembangan sumber daya manusia (SDM), kebudayaan dan kepemudaan. Nilai-nilai ke-Indonesiaan nampaknya masih belum terasa pada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih dalam menghadapi gempuran tantangan global di era disrupsi.
 
Jika kita amati pada aspek nilai, Pendidikan di Indonesia sebenarnya bermuara pada satu proses kebebasan berkehidupan yang hakiki. Hal tersebut bisa terlihat dari tujuan pendidikan Indonesia, yang di mana bukan hanya sekedar mencerdaskan kehidupan bangsa secara konseptual. Tapi yang paling penting adalah melahirkan manusia-manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia (baca tujuan pendidikan nasional di UU Sisdiknas).
 
Menurut penulis, Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila di sekolah menjadi "konvergensi" antara cara menghadapi situasi global dengan segudang tantangan bagi generasi muda kedepan, dengan implementasi pemahaman atau pengetahuan konseptual yang didapatkan di sekolah. Ada kurang lebih 6 komponen yang menjadi tujuan dalam implementasi P5 ini, masing-masing yaitu menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, bergotong-royong, bernalar kritis, berkebhinekaan global, kreatif dan mandiri. Dari tujuan ini, penulis berpandangan bahwa P5 adalah rangkaian proses pembentukan karakter pelajar Indonesia di era kontemporer yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.
 
Satu poin yang menurut penulis menarik yaitu pada sisi berkebhinekaan global. Dalam upaya meningkatkan keyakinan dan pemahaman filosofi bangsa, perlu dilakukan perbaikan secara konten maupun proses pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila, yang di dalamnya terkandung penumbuhkembangan karakter, literasi-numerasi, dan kecakapan abad 21 yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perubahan zaman. Dengan demikian, Pendidikan Pancasila akan menghasilkan warganegara yang mampu berpikir global (think globally) dengan cara-cara bertindak lokal (act locally) berdasarkan Pancasila sebagai jati diri dan identitas bangsa.
 
Mata pelajaran Pendidikan Pancasila mempunyai kedudukan strategis dalam upaya menanamkan dan mewariskan karakter yang sesuai dengan Pancasila kepada setiap warga negara, dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai bintang penuntun untuk mencapai Indonesia emas. Dengan Pendidikan Pancasila ini, sejatinya diharapkan membawa generasi muda Indonesia menjadi pribadi yang mampu memperkenalkan potensi sosiologis dan ide-ide berkehidupan ke dalam dimensi global (Pancasila dalam Internasionalisme meliputi seluruh aspek kehidupan bernegara, terlebih pada sisi geopolitik dan geostrategi).
 
Dengan pesatnya perkembangan IPTEK saat ini. Karakter pelajar Indonesia (peserta didik) diharapkan senantiasa tetap terus-menerus memelihara dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dengan tidak mengabaikan kemajuan teknologi yang berkembang di era globalisasi. Peserta didik juga menerima adanya kebhinekaan bangsa Indonesia, baik dari segi suku, ras, bahasa, agama dan kelompok sosial. Terhadap kebhinekaan tersebut, peserta didik dapat bersikap adil dan menyadari bahwa dirinya setara dengan yang lain, sehingga ia tidak membeda-bedakan jenis kelamin dan SARA yang berakibat pada perilaku diskriminatif. Terhadap kebhinekaan itu, peserta didik juga dapat memiliki sikap tenggang rasa, penghargaan, toleransi dan cinta damai sebagai bagian dari jati diri bangsa yang perlu dilestarikan. Peserta didik secara aktif mempromosikan kebhinekaan, mempertautkan kearifan lokal dengan budaya global, serta mendahulukan produk dalam negeri. Artinya kemajuan era diharapkan menjadi alat promosi kebhinekaan dan kedamaian yang ada di Indonesia, sehingga Indonesia bisa menjadi ide baru dalam hal berbangsa di mata internasional. Dan itu diawali dari transmisi Pendidikan Pancasila yang relevan di masing-masing institusi pendidikan.
 
Berpancasila sebenarnya bukan serta-merta secara keseluruhan menolak kebudayaan asing yang masuk di Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa menjadi tuntunan (bersifat dogmatis idiologis) dalam menjaga eksistensi bangsa dan budaya Indonesia terhadap budaya asing, yang menyebabkan seluruh negara saling berkompetisi untuk kepentingan negaranya masing-masing (national interest). Tapi yang paling utama dan harus kita sadari ialah Pancasila sebagai filterisasi atau alat penyaring terhadap seluruh bentuk penyimpangan moral yang jauh dari nilai-nilai keluhuran dan budi pekerti. Sehingganya di era kontemporer, Peserta didik diharapkan mampu menjadi roll model atau inspirator dalam kemajuan peradaban yang syarat akan kearifan lokal (local wisdom) sebagai cerminan dari slogan Think Globally, Act Locally.
 
"Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila" (Kemendikbudristek)
 
Penulis: Husein Hasni 
-Anggota Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) Provinsi Gorontalo
-Wakil Direktur Ganesha Study Center Institute
-Peneliti Muda Pusat Analisis Regional (PuSAR) Indonesia
-Pengajar PPKn MTs Darul MUbin Kota
 
 
Bagikan artikel ini:

1 Komentar

"Judul buku bah.inggris K-13 jga gtu. Bahasannya ttg anak nusantar yg bebahasa inggris. Kurang lebih tujuannya sapa. Bhwa milikilah wawasan internasional taoi jngan tinggalkan jati diri bangsa, rawatlah keatifan lokal demi kehidupan maju dan beptofil pancasila. Love NKRI ????"
25 Sep 2022 14:17 Isnawita

Beri Komentar

Haris K. Abdul

- Kepala Sekolah -

MTs Darul Mubin Kota Gorontalo merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia dengan motto Madrasah Hebat Bermartabat....

Berlangganan
Banner